
JAYAPURA, Sapapapua.com – Ratusan pemuda dan mahasiswa kembali menggelar aksi demo menolak program transmigrasi ke Papua yang digaungkan oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ratusan massa pendemo ini berkumpul di Lingkaran Abepura dan melakukan orasi menuntut pemerintah membatalkan program transmigrasi ke Papua.
Aksi yang awalnya berlangsung tertib berubah menjadi rusuh ketika massa pendemo berupaya melakukan longmarch ke Kantor DPR Papua namun tak diijinkan polisi karena menutup jalan dan mengganggu ketertiban umum.
“Kami sudah memberikan kebijakan untuk menyampaikan aspirasi di tempat saja, tapi tidak direspon dan mereka memaksa untuk melakukan longmarch, sehingga kami mengambil langkah untuk membubarkan massa sesuai prosedur,” katanya kepada wartawan usai pembubaran massa pendemo.
Pendemo yang marah karena tidak diijinkan longmarch, melakukan aksi perlawanan dengan melempar batu ke arah polisi, sehingga polisi mengambil tindakan tegas dengan menembakan gas air mata dan water canon ke arah pendemo untuk membubarkan diri.
“Kita lakukan protap karena mereka menutup jalur protokol atau jalur utama, kami sudah himbau untuk mundur tapi tidak dihiraukan, untuk itu kami ambil langkah tegas terukur,” bebernya.
Akibat lemparan batu yang dilakukan pendemo menyebabkan satu anggota polisi dan seorang jurnalis terluka akibat lemparan batu. Keduanya lalu dibawa ke rumah sakit untuk penangan medis.
“Akibat lemparan batu yang terjadi menyebabkan satu anggota kita dan satu jurnalis terluka akibat lemparan batu dari pendemo. Saat ini keduanya sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis,” tuturnya.
Kepolres menegaskan akan mencari pelaku yang memprovokasi pendemo untuk melakukan aksi anarkis terhadap polisi.
“Kami akan meminta pihak korlap untuk bertanggungjawab tentunya,” tegas Kapolresta. (Redaksi)






