
SENTANI, Sapapapua.com – Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Jayapura, Arianto, menyebut, peredaran narkotika jenis ganja di kalangan pelajar di Kabupaten Jayapura terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sudah sampai kepada pelajar di kampung-kampung.
“ Dari catatan kami ada puluhan pelajar yang sudah terpapar menggunakan narkotika. Tapi ini bagaikan fenomena gunung es yang hanya kelihatan puncaknya, tapi dibawahnya sangat masif dan tidak terdeteksi. Bahkan pengguna ganja di tingkat pelajar ini sudah sangat merata hingga ke kampung-kampung,” katanya kepada wartawan di Sentani, Kabupaten Jayapura.
Arianto menjelaskan, pelajar menjadi pasar narkotika karena pelajar dinilai memiliki komunitas yang lebih luas dan mudah terpengaruh.
“ Para pengedar narkoba melihat pelajar sebagai pasar yang menjanjikan karena anak-anak sekolah ini punya jaringan yang luas dengan dan rata-rata tingkat stress pelajar itu sama yakni stres dengan guru, pelajaran dan orang tua, sehingga mereka akan mencari cara untuk bisa menyenangkan diri,” jelasnya.
“ Bahkan kami dapati di beberapa sekolah yang saling berdakatan, jumlah pelajar yang pengguna maupun jadi pengedar narkotika itu jumlahnya sangat banyak, ini yang sangat mengkhawatirkan,” sambungnya.
Selain itu, jika pelajar kedapatan menggunakan atau mengedarkan ganja, maka hukumannya lebih ringan karena rata-rata masih dibawah umur.
“ Para mafia narkotika itu selalu mencari celah bagaimana bisa memasarkan narkotika, mereka juga mempelajari aspak-aspek hukum yang lemah dan dari hitungan meraka bahwa anak sekolah itu masih dibawah umur dan hukumannya ringan, jadi mereka masuk ke anak-anak sekolah dan berikan secara gratis,” bebernya.
Dikatakan, masifnya peredaran ganja di kalangan pelajar bukan hanya karena pasokan dari Papua New Guinea (PNG) tapi juga sudah mulai ditanam di kebun milik warga.
“ Memang masih ada pasokan dari PNG, tapi warga juga sudah meulai menanam di kebun-kebun tradisional. Kami banyak menerima laporan soal kebun warga sudah ditanami ganja,” ujarnya.
“ Kemudian salah satu lokasi yang masif peredaran ganja di Depapare, karena disitu merupakan perbatasan laut. Jadi jerigen atau kantong berisi ganja dibuang ke laut, kemudian nelayan-nelayan kita mengambil barang-barang itu dan disembunyikan d rumah-rumah sebelum dijual,” tambahnya.
Lanjut Arianto, dari hasil temuan BNNK Jayapura, pelajar yang menggunakan narkotika juga merupakan anak-anak dari kalangan pejabat daerah, tapi tak disadari orang tua karena perilaku pengguna ganja itu biasa saja.
“ Banyak anak pejabat yang terlibat penggunaan narkotika, ada anak dokter, anak kepala dinas, anak dari kepala bidang, tapi orang tua tidak pernah tau karena perilaku penguna ganja itu biasa saja. Bahkan kalau mereka sudah tidak punya uang, mereka bisa menukar ganja dengan barang-barang milik mereka seperti baju, handphone, dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Dengan masifnya peredaran ganja, Arianto mengajak semua pihak untuk komitmen dalam memberantas peredaran narkotika di Kabupaten Jayapura.
“ Untuk memberantas peredaran narkotika di kalangan pelajar perlu komitmen semua pihak. Kita sudah punya regulasi, punya punya peraturan daerah, tapi sampai saat ini belum jalan. Untuk itu kita minta ketegasan bersama karena leading sector itu ada di pemerintah,” imbuhnya.
Menueutnya, dengan ketegasan bersama, maka generasi muda di Kabupaten Jayapura bisa diselamatkan dari bahaya narkotika.
“ Ada keprihatinan besar dari kami BNNK terhadap generasi muda Papua khususunya di Kabupaten Jayapura karena kita khawatir kalau mereka sudah gunakan narkoba sejak usia remaja maka mereka tidak bisa digunakan di masa depan. Kita perlu ketegasan dan komitman bersama untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkotika,” tutupnya. (Redaksi)






